Tampilkan postingan dengan label Tips Trik Game. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Trik Game. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

Skala Wentworth

Skala Wentworth digunakan dalam pengklasifikasi batuan sedimen khususnya batuan sedimen klasik berdasarkan ukuran butir-butir penyusun batuan.

Nama Butir
Ukuran Butir
SedimentRock Tipe
BongkahBoulder> 256GravelRudites (Konglomerat, Breccia)
BerangkalCouble64 - 256
KerakalPebble4 - 64
KerikilGranule2 - 4
Pasir sangat kasarVery Coarse Sand1 - 2SandSandstones
Pasir kasarCoarse Sand1/2 - 1
Pasir sedangMedium Sand1/4 - 1/2
Pasir halusFine Sand1/8 - 1/4
Pasir sangat halusVery Fine Sand1/16 - 1/8
LanauSilt1/256 - 1/16MudLutites (Mudrocks)
LempungClay< 1/256

Minggu, 13 April 2014

Tingkatan Skala Richter Dan Kerusakannya


Skala Richter 1
tidak terasa, radius pengaruh gempa 25 km.
Skala Richter 2 
terasa oleh orang dalam keadaan istirahat, terutama jika berada di tingkat atas atau tempat tinggi, radius pengaruh gempa 50 km..
Skala Richter 3 
terasa di dalam rumah, tetapi banyak yang tidak menyangka kalau ada gempa bumi. Getaran terasa seperti ada truk kecil lewat, radius pengaruh gempa 100 km.
Skala Richter 4 
terasa di dalam rumah seperti ada truk berat lewat atau terasa seperti ada barang berat menabrak dinding rumah. Barang-barang yang tergantung bergoyang-goyang dan barang-barang yang berdiri bergerak. Pintu-pintu berderak dan gelas-gelas gemerincing. Dinding-dinding rumah dan rangka rumah berbunyi, radius pengaruh gempa 200 km.
Skala Richter 5 
dapat dirasakan di luar rumah. Orang tidur terbangun. cairan tampak bergoyang-goyang dan dapat tumpah sedikit. Barang perhiasan rumah yang kecil bergerak atau jatuh. Pintu-pintu terbuka-tertutup. Pigura-pigura dan dinding bergerak. Jarum jam ( jam bandul ) ukuran besar akan mati atau tidak cocok lagi, radius pengaruh gempa 400 km.
Skala Richter 6
terasa oleh semua orang. Banyak yang lari keluar karena terkejut dan takut. Pejalan kaki terganggu. Kaca jendela, barang pecah-belah akan pecah. Barang-barang kecil dan buku-buku jatuh dari tempatnya. Gambar-gambar jatuh dari dinding. Mebel-mebel bergerak dan berputar. Plesteran dinding yang lemah akan pecah atau retak, radius pengaruh gempa 700 km.
Skala Richter 7 
dapat dirasakan oleh supir yang sedang mengendarai kendaraan. Orang-orang yang berjalan kaki susah untuk berjalan dengan baik. Cerobong asap atau menara yang lemah akan runtuh. Terjadi pergeseran dan lekukan pada tumpukan pasir dan kerikil. Air jadi keruh dan saluran air rusak.
Skala Richter 8 
pengemudi mobil terganggu. bangunan-bangunan yang kuat menderita kerusakan dan ada bagian-bagian yang runtuh. Terjadi kerusakan pada dinding yang dibuat tahan terhadap getaran-getaran horisontal. Beberapa bagian dari dinding runtuh. cerobong asap, menara, dan tangki air berputar atau jatuh. Cabang-cabang pohon patah dan tanah basah juga lereng-lereng yang curam terbelah.
Skala Richter 9 
terjadi kepanikan umum. Bangunan-bangunan yang tidak kuat hancur dan mengalami kerusakan berat. terjadi kerusakan pada pondasi dan rangka-rangka rumah. Pipa-pipa di dalam tanah putus dan lumpur serta pasir keluar dari tanah.
Skala Richter 10 
pada umumnya semua tembok dan rangka rumah rusak, bangunan kayu dan jembatan-jembatan yang kuat rusak, tanggul dan bendungan juga tambak jebol, terjadi tanah longsong yang besar. Air kolam, danau dan sungai meluap. jalan-jalan dan rel kereta api bengkok.
Skala Richter 11 
pipa-pipa di dalam tanah rusak total.Rel kereta api bengkok.
Skala Richter 12 
Seluruh bangunan mengalami kehancuran. Batu-batu, barang-barang besar berpindah. Barang-barang terlempar ke udara.

Rabu, 26 Maret 2014

Makalah Sistem dan Lingkungan

1.      Pengertian Umum Termodinamika
Termodinamika berasal dari bahasa Yunani, yaitu thermos yang artinya panas dandynamic yang artinya perubahan. Cabang ilmu ini berdasarkan pada dua prinsip dasar yang aslinya diturunkan dari eksperimen,tapi kini dianggap sebagai aksiom.prinsip pertama adalah hukum kekekalan energi,yang mengambil bentuk hukum kesetaraan panas dan kerja.Prinsip yang kedua menyatakan bahwa panas itu sendiri tidak dapat mengalir dari benda yang lebih dingin ke benda yang lebih panas tanpa adanya perubahan dikedua benda tersebut.
Termodinamika merupakan ilmu yang mempelajari tentang keterkaitan hubungan antara energi panas dan kerja yang disertai parameter-parameter yang mendukung seperti tekanan, temperatur dan volume. Dalam termodinamika, sistem adalah bagian ruang atau benda-benda yang menjadi pusat perhatian untuk diamati. Sedangkan segala sesuatu yang berada di luar sistem dan mempengaruhi sistem tersebut disebut lingkungan.

Karena dalam mempelajari termodinamika, kita harus mengetahui terlebih dahulu hubungan antara energi panas dan kerja atau usaha. Kalor merupakan suatu bentuk eneri yang dapat berpindah dari lingkungan ke suatu sistem atau sebaliknya karena ada perbedaan suhu antara sistem dan lingkungannya. Tanpa pengaruh luar, kalor akan selalu berpindah dari suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih rendah. Sedangkan usaha merupakan suatu bentuk perpindahan energi melalui gaya yang dilakukan sistem pada lingkungan atau sebaliknya dimana titik tangkap gaya mengalami perpindahan.
Jadi, panas sangat mirip dengan kerja. Untuk membedakannya, panas didefinisikan sebagai transfer energi yang disebabkan oleh perbedaan temperatur, sementara kerja adalah transfer energi yang tidak disebabkan oleh perbedaan temperatur.
Prinsip-prinsip dan metode-metode termodinamika digunakan untuk:
1.      Menjelaskan kerja beberapa sistem.
2.      Menjelaskan mengapa suatu sistem tertentu tidak bekerja seperti yang diinginkan.
3.      Menjelaskan mengapa suatu sistem sama sekali tidak mungkin bekerja.
4.      Dasar teoritik dalam merancang sistem-sistem mesin, misalnya: motor bakar, pompa termal, motor roket, pusat pembangkit tenaga listrik, turbin gas, alat pendigin udara, dll.
Termodinamika memusatkan perhatian pada dua hal yaitu energi yang kekal dan proses yang menghasilkan entropi mungkin dapat terjadi tetapi proses yang menghapuskan entropi mustahil terjadi.

Hukum-hukum Dasar Termodinamika
Hukum-hukum termodinamika pada prinsipnya menjelaskan peristiwa perpindahan panas dan kerja pada proses termodinamika. Terdapat 4 hukum dasar yang berlaku di dalam sistem termodinamika,yaitu:
  • Hukum Ke-Nol Termodinamika
Termodinamika hukum ini menyatakan bahwa apabila dua buah benda yang berada didalam kesetimbangan thermal digabungkan dengan sebuah benda lain, maka ketiga-tiganya berada dalam kesetimbangan thermal.
  • Hukum Pertama Termodinamika  
Hukum termodinamika pertama berbunyi “Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan tetapi dapat dikonversi dari suatu bentu ke bentuk yang lain”. Hukum pertama adalah prinsip kekekalan energi yang memasukan kalor sebagai model perpindahan energi.Menurut hukum pertama,energi didalam suatu benda dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan kalor ke benda atau dengan melakukan usaha pada benda.Hukum pertama tidak membatasi arah perpindahan kalor yang dapat terjadi.
Aplikasi : Mesin-mesin pembangkit energi dan pengguna energi.Semuanya hanya mentransfer dengan berbagai cara.
  • Hukum Kedua Termodinamika
Termodinamika hukum kedua terkait dengan entropi.Entropi adalah tingkat keacakan energi.Hukum ini menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkatkan waktu,mendekati nilai maksimumnya.
Aplikasi : kulkas harus mempunyai pembuang panas dibelakangnya,yang suhunya lebih tinggi dari udara sekitar.Karena jika tidak panas dari isi kulkas tidak bisa terbuang keluar.
  • Hukum Ketiga Termodinamika
Hukum termodinamika ketiga terkait dengan temperatur nol absolut.Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.
Aplikasi : kebanyakan logam bisa menjadi superkonduktor pada suhuyang sangat rendah,karena tidak banyak acakan gerakan kinetik dalam skala mokuler yang mengganggu aliran elektron.

2.      Sistem Termodinamika dan Lingkungan
Pembahasan mengenai termodinamika selalu berkaitan dengan dua komponen, yaitu sistem dan lingkungan. Sistem adalah sejumlah zat, campuran zat, atau segala sesuatu yang ada dalam pengamatan baik berbentuk padat, cair, maupun gas. Sistem yang tidak termasuk dalam pengamatan digolongkan sebagai lingkungan.
Sistem didefiniskan  sebagai permukaan tertutup yang disebut sebagai  boundary.  Terdapat kemungkinan bahwa Boundary itu real atau imaginer, dan mungkin juga tidak tetap di dalam bentuk dan volumenya. Misalkan cangkir sebagai wadah dari teh, atau balon yang mewadahi gas, disini cangkir dan balon disebut boundary real yang secara jelas dapat dilihat antara sistem dan lingkungannya. Misalkan terdapat es diatas meja. Kita tidak bisa mengamati secara jelas pembatas antara sistem (dalam hal ini es) dengan lingkungannya, sehingga kita memberikan definisi boundary imajiner untuk memisahkan sistem es dengan lingkungannya. Sistem mungkin secara nyata sebuah balok besi, gas di dalam balon, atau mungkin sebuah volume yang didefinisikan oleh boundary imaginer yang tertentu, di dalam cairan yang mengalir.
Sistem termodinamika adalah bagian dari jagat raya yang diperhitungkan. Sebuah batasan yang nyata atau imajinasi memisahkan sistem dengan jagat raya, yang disebut lingkungan. Dimana batas sistem yang merupakan bagian dari sistem dan lingkungannya dapat tetap ataupun berubah posisi. Pembagian sistem menjadi subsistem masih mungkin terjadi, atau membentuk beberapa sistem menjadi sistem yang lebih besar.
Klasifikasi sistem termodinamika berdasarkan pada sifat batas sistem-lingkungan dan perpindahan materi, kalor dan entropi antara sistem dan lingkungan. Ada tiga jenis sistem berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara sistem dan lingkungan:
1)      Sistem terisolasi: tak terjadi pertukaran massa maupun energi (kerja dan kalor) dalam bentuk apapun dengan lingkungan. Contoh dari sistem terisolasi adalah wadah terisolasi, seperti tabung gas terisolasi.
2)      Sistem tertutup: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) tetapi tidak terjadi pertukaran benda dengan lingkungan. Rumah hijau adalah contoh dari sistem tertutup di mana terjadi pertukaran panas tetapi tidak terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan. Apakah suatu sistem terjadi pertukaran panas, kerja atau keduanya biasanya dipertimbangkan sebagai sifat pembatasnya, yaitu :
§  Pembatas adiabatik: tidak memperbolehkan pertukaran panas dan memperbolehkan pertukaran kerja.
§  Pembatas diatermal: tidak memperbolehkan pertukaran kerja dan diperbolehkan pertukaran panas.
3)      Sistem terbuka: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) dan massa (benda) dengan lingkungannya. Sebuah pembatas memperbolehkan pertukaran benda disebut permeabel. Contoh dari sistem terbuka ini adalah lautan/samudra.
Dalam kenyataan, sebuah sistem tidak dapat terisolasi sepenuhnya dari lingkungan, karena pasti ada terjadi sedikit pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit penarikan gravitasi. Dalam analisis sistem terisolasi, energi yang masuk ke sistem sama dengan energi yang keluar dari sistem.

download filex disini ok 

Senin, 06 Januari 2014

MACAM - MACAM BATUAN METAMORF

Setelah mengetahui jenis-jenis pembentukan metamorfisme dan penamaan batuan metamorf berdasarkan struktur,tekstur,dan komposisi mineralnya. Kini saatnya kita perlu mengetahui dan melihat macam-macam batuan metamorf seperti yang telah dijelaskan pada postingan sebelumnya. Berikut ini adalah gambar dengan klasifikasinya :
1. Slate
Slatycleavage (sabak)
Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan sedimen Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah. Memiliki struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus (very fine grained).
Asal                               : Metamorfisme Shale dan Mudstone
Warna                            : Abu-abu, hitam, hijau, merah
Ukuran butir                    : Very fine grained
Struktur                          : Foliated (Slaty Cleavage)
Komposisi                       :  Quartz, Muscovite, Illite
Derajat metamorfisme    : rendah
Ciri khas                       : mudah membelah menjadi lembaran tipis.

2. Filit
Filitik ( filit)
Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.
Asal                               : Metamorfisme Shale
Warna                            : Merah, kehijauan
Ukuran butir                    : Halus
Struktur                          : Foliated (Slaty-Schistose)
Komposisi                       : Mika, kuarsa
Derajat metamorfisme      : Rendah – Intermediate
Ciri khas                         : Membelah mengikuti permukaan gelombang

3. Gneiss
Gneissa (gneiss)
Merupakan batuan yang terbentuk dari hasil metamorfosisme batuan beku dalam temperatur dan tekanan yang tinggi. Dalam Gneiss dapat diperoleh rekristalisasi dan foliasi dari kuarsa, feldspar, mika dan amphibole.
Asal                               : Metamorfisme regional siltstone, shale, granit
Warna                            : Abu-abu
Ukuran butir                    : Medium – Coarse grained
Struktur                          : Foliated (Gneissic)
Komposisi                       : Kuarsa, feldspar, amphibole, mika
Derajat metamorfisme      : Tinggi
Ciri khas                        : Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan                                          tipis kaya amphibole dan mika
4. Sekis
Skistosa (sekis)
Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit, horndlende. Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.
Asal                               : Metamorfisme siltstone, shale, basalt
Warna                            : Hitam, hijau, ungu
Ukuran butir                    : Fine – Medium Coarse
Struktur                          : Foliated (Schistose)
Komposisi                       : Mika, grafit, hornblende
Derajat metamorfisme      : Intermediate – Tinggi
Ciri khas                         : Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat                                            kristal garnet
5. Marmer
Marble (marmer)
Terbentuk ketika batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami perubahan dan rekristalisasi kalsit. Utamanya tersusun dari kalsium karbonat. Marmer bersifat padat, kompak dan tanpa foliasi.
Asal                            : Metamorfisme batu gamping, dolostone
Warna                         : Bervariasi
Ukuran butir                 : Medium – Coarse Grained
Struktur                       : Non foliasi
Komposisi                    : Kalsit atau Dolomit
Derajat metamorfisme   : Rendah – Tinggi
Ciri khas                 : Tekstur berupa butiran seperti gula,  terkadang                                                terdapat fosil, bereaksi dengan HCl.
6. Kuarsit
quartzite (kuarsit)
Adalah salah satu batuan metamorf yang keras dan kuat. Terbentuk ketika batupasir (sandstone) mendapat tekanan dan temperatur yang tinggi. Ketika batupasir bermetamorfosis menjadi kuarsit, butir-butir kuarsa mengalami rekristalisasi, dan biasanya tekstur dan struktur asal pada batupasir terhapus oleh proses metamorfosis .
Asal                               : Metamorfisme sandstone (batupasir)
Warna                            : Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah
Ukuran butir                    : Medium coarse
Struktur                          : Non foliasi
Komposisi                       : Kuarsa
Derajat metamorfisme      : Intermediate – Tinggi
Ciri khas                         : Lebih keras dibanding glass
7. Milonit
Milonitik (milonit)
Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose.
Asal                             : Metamorfisme dinamik
Warna                          : Abu-abu, kehitaman, coklat, biru
Ukuran butir                  : Fine grained
Struktur                        : Non foliasi
Komposisi                    : Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan
Derajat metamorfisme   : Tinggi
Ciri khas                      : Dapat dibelah-belah
8. Filonit
Filonit
Merupakan batuan metamorf dengan derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate. Umumnya terbentuk dari proses metamorfisme Shale dan Mudstone. Filonit mirip dengan milonit, namun memiliki ukuran butiran yang lebih kasar dibanding milonit dan tidak memiliki orientasi. Selain itu, filonit merupakan milonit yang kaya akan filosilikat (klorit atau mika)
Asal                              : Metamorfisme Shale, Mudstone
Warna                           : Abu-abu, coklat, hijau, biru, kehitaman
Ukuran butir                   : Medium – Coarse grained
Struktur                         : Non foliasi
Komposisi                      : Beragam (kuarsa, mika, dll)
Derajat metamorfisme     : Tinggi
Ciri khas                        : Permukaan terlihat berkilau
9. Serpetinit
Serpentinit
Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi serpentinit.
Asal                 : Batuan beku basa
Warna              : Hijau terang / gelap
Ukuran butir     : Medium grained
Struktur           : Non foliasi
Komposisi        : Serpentine
Ciri khas          : Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari
10. Hornfels
Hornfelsik (hornfels)
Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfosis oleh temperatur dan intrusi beku, terbentuk di dekat dengan sumber panas seperti dapur magma, dike, sil. Hornfels bersifat padat tanpa foliasi.
Asal                            : Metamorfisme kontak shale dan claystone
Warna                         : Abu-abu, biru kehitaman, hitam
Ukuran butir                 : Fine grained
Struktur                       : Non foliasi
Komposisi                    : Kuarsa, mika
Derajat metamorfisme   : Metamorfisme kontak
Ciri khas                      : Lebih keras dari pada glass, tekstur merata
Demikian ulasan tentang macam-macam batuan metamorf, bila ada yang kurang atau perlu ditambahkan dapat  langsung memberikan komentar dibawah ini.

Struktur dan tekstur batuan metamorf

STRUKTUR DAN TEKSTUR BATUAN METAMORF
A. Struktur Batuan Metamorf
Adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran, bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut. (Jacson, 1997).  Secara umum struktur batuan metamorf dapat dibadakan menjadi struktur foliasi dan nonfoliasi (Jacson, 1997).
1. Struktur Foliasi
Merupakan kenampakan struktur planar pada suatu massa. Foliasi ini dapat terjadi karena adnya penjajaran mineral-mineral menjadi lapisan-lapisan (gneissoty), orientasi butiran (schistosity), permukaan belahan planar (cleavage) atau kombinasi dari ketiga hal tersebut (Jacson, 1970).
Struktur foliasi yang ditemukan adalah :
1a. Slaty Cleavage
Umumnya ditemukan pada batuan metamorf berbutir sangat halus (mikrokristalin) yang dicirikan oleh adanya bidang-bidang belah planar yang sangat rapat, teratur dan sejajar. Batuannya disebut slate (batusabak).
Gambar Struktur Slaty Cleavage dan Sketsa Pembentukan Struktur
Gambar Struktur Slaty Cleavage dan Sketsa Pembentukan Struktur
1b. Phylitic
Srtuktur ini hampir sama dengan struktur slaty cleavage tetapi terlihat rekristalisasi yang lebih besar dan mulai terlihat pemisahan mineral pipih dengan mineral granular. Batuannya disebut phyllite (filit)
Gambar Struktur Phylitic
Gambar Struktur Phylitic
1c. Schistosic
Terbentuk adanya susunan parallel mineral-mineral pipih, prismatic atau lentikular (umumnya mika atau klorit) yang berukuran butir sedang sampai kasar. Batuannya disebut schist (sekis).
Gambar Struktur Schistosic dan Sketsa Pembentukan Struktur
Gambar Struktur Schistosic dan Sketsa Pembentukan Struktur
1d. Gneissic/Gnissose
Terbentuk oleh adanya perselingan., lapisan penjajaran mineral yang mempunyai bentuk berbeda, umumnya antara mineral-mineral granuler (feldspar dan kuarsa) dengan mineral-mineral tabular atau prismatic (mioneral ferromagnesium). Penjajaran mineral ini umumnya tidak menerus melainkan terputus-putus. Batuannya disebut gneiss.
Gambar Struktur Gneissic dan Sketsa Pembentukan Struktur
Gambar Struktur Gneissic dan Sketsa Pembentukan Struktur
2. Struktur Non Foliasi
Terbentuk oleh mineral-mineral equidimensional dan umumnya terdiri dari butiran-butiran (granular). Struktur non foliasi yang umum dijumpai antara lain:
2.a  Hornfelsic/granulose
Terbentuk oleh mozaic mineral-mineral equidimensional dan equigranular dan umumnya berbentuk polygonal. Batuannya disebut hornfels (batutanduk)
Gambar Sruktur Granulose
Gambar Sruktur Granulose
2b. Kataklastik
Berbentuk oleh pecahan/fragmen batuan atau mineral berukuran kasar dan umumnya membentuk kenampakan breksiasi. Struktur kataklastik ini terjadi akibat metamorfosa kataklastik. Batuannya disebut cataclasite (kataklasit).
2c.    Milonitic
Dihasilkan oleh adanya penggerusan mekanik pada metamorfosa kataklastik. Cirri struktur ini adalah mineralnya berbutir halus, menunjukkan kenampakan goresan-goresan searah dan belum terjadi rekristalisasi mineral-mineral primer. Batiannya disebut mylonite (milonit).
Struktur Milonitic
Struktur Milonitic
2d. Phylonitic
Mempunyai kenampakan yang sama dengan struktur milonitik tetapi umumnya telah terjadi rekristalisasi. Cirri lainnya adlah kenampakan kilap sutera pada batuan yang ,mempunyai struktur ini. Batuannya disebut phyllonite (filonit).
B. Tekstur Batuan Metamorf
Merupakan kenampakan batuan yang berdasarkan pada ukuran, bentuk dan orientasi butir mineral dan individual penyusun batuan metamorf. Penamaan tekstur batuan metamorf umumnya menggunakan awalan blasto atau akhiran blastic tang ditambahkan pada istilah dasarnya. (Jacson, 1997).
1.   Tekstur Berdasarkan Ketahanan Terhadap Proses Metamorfosa
Berdasarkan ketahanan terhadap prose metamorfosa ini tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
a. Relict/Palimset/Sisa
Merupakan tekstur batuan metamorf yang masih menunjukkan sisa tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan asalnya nasih tampak pada batuan metamorf tersebut.
b. Kristaloblastik
Merupakan tekstur batuan metamorf yang terbentuk oleh sebab proses metamorfosa itu sendiri. Batuan dengan tekstur ini sudah mengalami rekristalisasi sehingga tekstur asalnya tidak tampak. Penamaannya menggunakan akhiran blastik.
2.   Tekstur Berdasarkan Ukuran Butir
Berdasarkan butirnya tekstur batuan metmorf dapat dibedakan menjadi:
  1. Fanerit, bila butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata
  2. Afanitit, bila ukuran butir kristal tidak dapat dilihat dengan mata.
3.   Tekstur berdasarkan bentuk individu kristal
Bentuk individu kristal pada batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
  1. Euhedral, bila kristal dibatasi oleh bidang permukaan bidang kristal itu sendiri.
  2. Subhedral, bila kristal dibatasi oleh sebagian bidang permukaannya sendiri dan sebagian oleh bidang permukaan kristal disekitarnya.
  3. Anhedral, bila kristal dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan kristal lain disekitarnya.
Berdasarkan bentuk kristal tersebut maka tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
  1. Idioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk euhedral.
  2. Xenoblastik/Hypidioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk anhedral.
d.   Tekstur Berdasarkan Bentuk Mineral
Berdasarkan bentuk mineralnya tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
  1. Lepidoblastik, apabila mineralnya penyusunnya berbentuk tabular.
  2. Nematoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk prismatic.
  3. Granoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas mineralnya bersifat sutured (tidak teratur) dan umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
  4. Granoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas mineralnya bersifat unsutured (lebih teratur) dan umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
Selain tekstur yang diatas terdapat beberapa tekstur khusus lainnya diantaranya adlah sebagai berikut:
  • Perfiroblastik, apabila terdapat mineral yang ukurannya lebih besar tersebut sering disebut porphyroblasts.
  • Poikloblastik/Sieve texture, tekstur porfiroblastik dengan porphyroblasts tampak melingkupi beberapa kristal yang lebih kecil.
  • Mortar teksture, apabila fragmen mineral yang lebih besar terdapat padamassadasar material yang barasal dari kristal yang sama yang terkena pemecahan (crhusing).
  • Decussate texture yaitu tekstur kristaloblastik batuan polimeneralik yang tidak menunjukkan keteraturan orientasi.
  • Saccaroidal Texture yaitu tekstur yang kenampakannya seperti gula pasir.
  • Batuan mineral yang hanya terdiri dari satu tekstur saja, sering disebut berstekturhomeoblastik.

About

Powered By Blogger